PAPUA, PETA, DAN JALAN YANG SERING TERLUPA

Gorontalo6 views

SULAWESI.NEWS – Papua kerap hadir di ruang publik dengan wajah yang beragam. Ada yang menyorotinya dari sisi konflik, ada yang membacanya melalui lensa politik, dan tak sedikit pula yang menekankan persoalan hak serta identitas. Satu peristiwa, namun melahirkan banyak tafsir.

Dari titik itulah kuliah umum bertajuk “Membaca Peta dan Berjalan Bersama” bermula. Materi ini disampaikan oleh Taufik R. Talalu, dosen Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, dalam Studium Generale Fakultas Ushuluddin dan Dakwah pada Selasa, 11 Februari, di Aula FUD Kampus 1 IAIN Sultan Amai Gorontalo. Tema tersebut merupakan elaborasi dari tema besar kegiatan: Transformasi Komunikasi Antarbudaya: Menggali Identitas Budaya Lokal dalam Kehidupan Multikultural.

Menariknya, Taufik membuka pemaparannya dengan sebuah pantun yang sederhana namun sarat makna:

Jalan-jalan ke Papua,

Terus ke Sorong sampai Raja Ampat.

Budaya berbeda jangan jadi luka,

Baca PETA, siapkan JALAN, agar selamat.

Pantun itu menjadi pengantar yang ringan sekaligus mengarahkan peserta pada inti pembahasan: bagaimana menghadapi perbedaan budaya secara bijak dan terencana.

Alih-alih terjebak pada perdebatan politik atau isu keamanan semata, Taufik mengajak peserta memandang Papua sebagai persoalan komunikasi antarbudaya. Menurutnya, komunikasi tidak boleh dibiarkan berjalan tanpa arah. Ia harus dipahami, dirancang, dan dikelola secara sadar.

“Satu realitas bisa dipahami berbeda oleh kelompok yang berbeda. Di sinilah pentingnya manajemen komunikasi,” ujarnya.

Dalam pemaparannya, ia menekankan dua konsep kunci: PETA dan JALAN.

PETA adalah langkah awal memetakan identitas, nilai, pengalaman budaya, serta cara suatu kelompok membentuk makna terhadap realitas. Tanpa PETA, komunikasi hanya bertumpu pada asumsi. Dan asumsi, sering kali, menjadi akar kesalahpahaman bahkan konflik.

Setelah PETA, hadir JALAN yakni merancang jalur komunikasi yang adil, dialogis, dan berkelanjutan. Komunikasi lintas budaya tidak cukup bersifat satu arah. Ia harus memberi ruang dialog, keterbukaan, dan kemungkinan untuk dilalui berulang kali. Dengan kata lain, komunikasi harus menjadi proses bersama, bukan monolog sepihak.

Taufik menegaskan bahwa pendekatan ini tidak hanya relevan dalam konteks Papua, tetapi juga dalam kehidupan kampus. Diskusi akademik dan forum ilmiah hanya akan efektif jika setiap suara merasa aman untuk hadir dan didengar.

Menutup kuliah umum tersebut, ia mengaitkan gagasannya dengan nilai Al-Qur’an tentang keberagaman manusia sebagai sunnatullah bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Dalam kerangka itu, komunikasi bukan sekadar pertukaran pesan, melainkan jembatan untuk membangun pengertian.

“Jika keberagaman adalah sunnatullah, maka tugas kita bukan menghapus perbedaan, melainkan membaca PETA dan ber-JALAN bersama,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan