Hadiri Acara Adat Tulude dan Peresmian Jalan Desa Jiko Belanga, Bupati Sachrul Mamonto Sampaikan Ini

SULAWESI.NEWS, BOLTIM – Bupati Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Sam Sachrul Mamonto, didampingi Ketua Tim Penggerak PKK Boltim Seska Ervina Budiman,menghadiri acara adat Tulude sekaligus peresmian jalan di Desa Jiko Belanga, Kecamatan Nuangan, Kamis 3 Februari 2022.

Bupati bersama rombongan tiba di lokasi pukul 14.00 WITA, di sambut dengan tarian adat Sanger Pelonihaka (tarian perang) sampai pada prosesi adat Tulude dan pemotongan kue Tamo.

Hadiri Acara Adat Tulude dan Peresmian Jalan Desa Jiko Belanga, Bupati Sachrul Mamonto Sampaikan Ini
Foto Istimewa

Ketua Adat Kerukunan Sangihe di desa Jiko Belanga Hendrik Martelu menjelaskan, makna dari Tulude dengan maksud menolak seluruh apa yang jahat termasuk tolak penyakit yang telah terjadi pada waktu yang lalu dan kemarin.

Hadiri Acara Adat Tulude dan Peresmian Jalan Desa Jiko Belanga, Bupati Sachrul Mamonto Sampaikan Ini
Foto Istimewa

“Dahulu namanya Manahude dan ditetapkan menjadi Tulude. Acara adat ini merupakan syukuran atau bisa jadi tolak bala dari segala macam penyakit seperti Covid-19,” jelasnya.

Lanjutnya, masyarakat Nusa Utara hobi bertani, dan apa saja yang di tanam juga di panen oleh masyarakat, semuanya ada di dalam kue Tamo ini.

Hadiri Acara Adat Tulude dan Peresmian Jalan Desa Jiko Belanga, Bupati Sachrul Mamonto Sampaikan Ini
Foto Istimewa

“Makanya kami buat syukuran juga tolak bala dengan prosesi pemotongan kue Tamo. Kue Adat Tamo, menjadi simbol masyarakat Nusa Utara untuk mensyukuri nikmat Tuhan dan kami berdoa untuk seluruh masyarakat di Boltim juga seluruhnya, agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan,” ucapnya.

Sementara itu, Bupati Boltim Sam Sachrul Mamonto, dalam sambutannya mengatakan, ia begitu bangga karena di undang dalam acara adat Tulude juga peresmian jalan di Desa Jiko Belanga.

Hadiri Acara Adat Tulude dan Peresmian Jalan Desa Jiko Belanga, Bupati Sachrul Mamonto Sampaikan Ini
Foto Istimewa

“Bagi warga sanger, Saya tidak asing dengan acara seperti ini, karena istri saya dari suku Sanger. Makanya saya banyak belajar pada istri saya tentang adat dan bahasa sanger. Artinya, saya sudah menjadi salah satu bagian dari suku Sanger. Istri saya sering dipanggil Embo’ karena dari Talaut. Sayapun sering dipanggil Ungke’ oleh mertua saya, sampe anak saya di panggil Wau’,” terang Bupati.

Bupati juga menjelaskan, makna dari upacara adat Tulude yakni menolak segala hal-hal yang buruk di tahun lalu dan menyongsong serta mensyukuri nikmat Tuhan pada hari ini.

“Kalau bahasa politik Tolude adalah rekonsiliasi, mempersatukan yang terkotak-kotak. Tidak ada lagi perbedaan, yang ada adalah kita NKRI dan kita adalah masyarakat Boltim. Kita satu, dan bersatu. Semoga apa yang telah di do’akan tadi akan dikabulkan oleh Allah SWT,” ucap Sachrul.

Tak lupa juga, Bupati selalu mengingatkan kepada masyarakat akan pentingnya mematuhi protokol kesehatan dalam kondisi Pandemi saat ini.

“Pandemi Covid-19 ini sebenarnya belum berakhir. Sehingga, jika ada kegiatan atau acara seperti ini, kita harus tetap patuhi dan jalankan protokol kesehatan pencegahan penyebaran Covid-19, untuk menjauhkan dari segala penyakit, karena bagian juga dari maknanya Tulude,” kata Sachrul lagi.

 

Advetorial

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *