Hoaks di Dunia Maya, Luka di Dunia Nyata

Opini18 views

Oleh: Taufik R. Talalu
Penulis adalah kader HMI Cabang Gorontalo, peserta Advance Training LK III Badko HMI Sulawesi Utara Gorontalo Tahun 2026.

Ponsel pintar kini ada di hampir setiap tangan warga. Dalam hitungan detik, informasi berpindah dari satu layar ke layar lain. Sayangnya, kecepatan ini tidak selalu diiringi dengan kehati-hatian. Banyak masyarakat dengan mudah mempercayai pesan berantai, tawaran jual beli online, serta informasi bantuan pemerintah yang tidak jelas sumbernya. Sebagian warga menerima informasi tanpa melakukan pengecekan. Kondisi ini membuat hoaks menyebar cepat dan menimbulkan dampak sosial yang serius.

Fakta ini saya temui saat melakukan pengabdian masyarakat di Kabupaten Gorontalo Utara. Di salah satu desa, beberapa warga menjadi korban hoaks berkedok investasi dan bantuan dana. Seorang warga mengalami kerugian lebih dari 50 juta rupiah. Kerugian tersebut berasal dari tabungan pribadi yang dikumpulkan selama bertahun-tahun. Selain itu, terdapat kasus penipuan jual beli online dan pesan palsu yang mengatasnamakan program bantuan pemerintah. Peristiwa ini menunjukkan bahwa hoaks telah berdampak nyata pada kondisi ekonomi dan psikologis masyarakat.

Maraknya hoaks tidak hanya disebabkan oleh kelicikan pelaku penipuan. Persoalan utamanya terletak pada rendahnya kemampuan masyarakat dalam menyaring informasi. Banyak warga belum terbiasa memeriksa kebenaran pesan sebelum mengambil keputusan. Pendampingan literasi informasi di tingkat desa juga masih terbatas. Akibatnya, masyarakat menghadapi arus informasi di dunia maya tanpa perlindungan pengetahuan yang memadai. Situasi ini membuat risiko penipuan terus berulang.

Dampak hoaks perlu diatasi melalui edukasi yang dilakukan secara rutin dan terarah. Edukasi dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti membaca informasi secara utuh, tidak tergesa-gesa merespons pesan, serta berdiskusi dengan keluarga atau perangkat desa sebelum melakukan transaksi keuangan. Pendekatan ini menumbuhkan sikap kehati-hatian dan tanggung jawab dalam menerima informasi. Dengan cara tersebut, masyarakat dapat mengambil keputusan secara lebih rasional dan aman.

Pada akhirnya, persoalan hoaks bukan hanya soal informasi yang salah, tetapi tentang cara manusia menjaga akal dan kepercayaan. Ketika masyarakat terbiasa berpikir jernih dan saling mengingatkan, ruang-ruang digital tidak lagi menjadi ancaman. Ia dapat berubah menjadi alat yang benar-benar membantu kehidupan bersama.

Tinggalkan Balasan